Tahukah Anda kalau volume sampah warga Jakarta setara dengan setengah volume Candi Borobudur? Dari jumlah itu, 10 persen diantaranya adalah sampah plastik. Itu baru di Jakarta, bayangkan betapa banyaknya sampah plastik dari seluruh Indonesia.
Belasan tukang sampah sedang memindahkan sampah dari puluhan gerobak ke atas sebuah truk. Ini dilakukan di tempat pembuangan sampah di dalam permukiman. Baunya cukup menyengat. Ini adalah sampah rumah tangga yang isinya berbagai jenis. Sampah kertas, plastik, sisa makanan, bahkan kayu, bambu dan daun kering, bercampur jadi satu.
10 persen dari sampah-sampah itu adalah sampah plastik, sehingga sampah sudah jadi bahaya laten.
Plastik, seperti sampah lainnya, sebetulnya sudah mempunyai tempat yang pas, yaitu tempat pembuangan sampah. Tapi plastik bakal tetap berbahaya jika tidak dikelola dengan benar. Langkah pertama yang bisa dilakukan setiap orang dalam mengelola sampah adalah memilahnya. Antara yang bisa didaur ulang, dengan yang tidak.
Plastik masih dipakai karena masih tersedia dan terus disediakan.
Produsen kebutuhan sehari-hari masih memakai plastik sebagai bungkus kemasan. Sebut saja, produk makanan-minuman ringan. Sebuah produsen mie instan paling populer se-tanah air memproduksi sekitar 10 miliar bungkus per tahun. Dan bungkus kemasannya itu tentu saja dari plastik.
Melalui UU Sampah mendorong industri untuk lebih kreatif dan beralih ke penggunaan plastik yang ramah lingkungan.
Pertengahan tahun lalu, Undang-undang Pengelolaan Sampah datang membawa harapan. Lewat aturan ini, produsen wajib mencantumkan label soal pengurangan dan penanganan sampah kemasan dan produk. Produsen pun wajib mengelola kemasan dan produknya yang sulit terurai oleh proses alam. Jika nekad bandel, silakan menunggu sanksi 15 tahun penjara atau denda 5 miliar rupiah.
Sayangnya, UU ini belum bisa beraksi tanpa kehadiran Peraturan Pemerintah. Produsen rupanya memanfaatkan celah ini.
Meskipun di beberapa toko ritel, mulai bisa dijumpai kantong plastik yang ramah lingkungan. Atau menjual kantong belanja berbahan kain. Ada juga toko yang menjual satu kantong plastik ukuran layar televisi 21 inchi dengan harga lebih dari 10 ribu rupiah.
Ada dua macam, ada bio-degradable dan oxium. Bio-degradable ini dibuat dari singkong. Singkong kan banyak di Indonesia. Kalau yang oxium ini ada penambahan oksidasi sehingga terurai lebih cepat. Indomaret pakai oxium, Century oxium, Kemchick pakai yang dari singkong.
Kehadiran kantong plastik ramah lingkungan diyakini bisa ikut mendidik masyarakat untuk mengurangi penggunanaan plastik. Artinya, kata Sri Bebassari, produsen ikut mendidik konsumen.
Di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa disediakan dropping box tempat mengumpulkan kemasan-kemasan plastik yang sudah tidak terpakai. Tapi belum di Indonesia, yang memilah sampah pun belum dilakukan secara serius.
Rasanya kita perlu banyak belajar dari waga Depok, Bibong Widyarti, yang sudah 5 tahun terakhir menjalani gaya hidup non-plastik.
“Yang saya jalanin sehari-hari kalau belanja saya bawa tas sendiri dari rumah. Bukan tas plastik. Trus saya kurangi konsumsi produk-produk kecil yang memakai kemasan plastik. Saya mulai juga bawa kardus untuk barang yang banyak. Memang agak repot,” katanya.
Kebiasaan ini ditiru Bibong dari keluarganya. Semula Bibong menerima banyak penolakan lantaran membawa tas sendiri setiap kali belanja.
Butuh langkah kecil untuk memulai sesuatu yang besar. Bibong sudah melakukannya. Begitu juga Maizir dan Tamanto Fajar.
PR yang tersisa adalah memastikan produsen bertanggungjawab atas sampah plastik yang mereka buat, dan akibatnya harus ditanggung bumi kita bersama.